Mempelajari Kutub dengan Menggunakan Media Visual (Gambar)

Suatu hari, di sebuah kelas yang tenang, seorang guru sedang memberikan materi pembelajaran Geografi mengenai klasifikasi iklim di Bumi. Dengan hanya menggunakan metode ceramah sambil menjelaskan sesuai buku teks, kebanyakan siswa kurang  memahami bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti bagaimana gambaran daerah-daerah di Bumi yang belum pernah mereka temui / lihat dan rasakan secara langsung. Siswa akan mengantuk dan bosan, karena sang guru mengajar layaknya mendongeng.

SEHARUSNYA, seorang guru yang baik tidak hanya menggunakan metode ceramah saja! Guru yang baik akan selalu berinovasi dan kreatif. Nah, guru kreatif akan menggunakan berbagai media untuk memperlancar dan mempermudah penyampaian isi materi kepada siswa. Sebagai contoh, saat menjelaskan keadaan di Kutub Utara, guru dapat menggunakan media visual atau media dua dimensi. Guru menggunakan foto atau gambar Kutub Utara yang diperlihatkan (ditempel di depan kelas) kepada siswanya, lalu menjelaskan / mendeskripsikan gambar tersebut.

Beberapa contoh gambar tersebut adalah sebagai berikut : 

 

Dengan menggunakan media gambar, siswa minimal mengetahui gambaran pasti dan keadaan Kutub (karena mereka hanya tahu bahwa Kutub itu dingin).

 

 

Naahh… Setelah diperlihatkan gambar tersebut, siswa pasti akan berimajinasi luas. Mereka berpikir kritis mengenai luas wilayah Kutub, suhu dan cuaca di Kutub, hewan atau tumbuhan apa saja yang mampu hidup di dekat kutub, dst. Ya kan??

Kesimpulannya, Penggunaan media sangaaaat penting dalam proses belajar mengajar di sekolah.. ^__________^

Media sebagai Penyampaian Pesan dalam Pembelajaran

Dalam pembelajaran, seorang guru memerlukan media agar proses belajar dan mengajar adpat berjalan dengan baik, walaupun tidak semua mata pelajaran memerlukan media hanya beberapa saja. Dalam hal ini  guru mengetahui peran dari media itu sendiri ialah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan dan menyalurkan pesan pembelajaran secarea terencana sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Yang perlu digarisbwahi ialah efektif dan efisien, jadi maksudnya ialah media digunakan dalam pembelajarn untuk menghemat waktu yang ada, jadi guru dapat mengurangi berverbalisme dalam proses belajar mengajar.             

Media yang diberikan bisa berupa media yang sederhana dan modern sekalipun, inipun tergantung situasi dan kondisi dimana proses belajar mengajar tersebut berlangsung seperti contonhya saja, media sederhana yang disajikan g uru didalam ruang kelas, media yang dapat diberikan ialah, media visual:gambat, diagram, tabel, foto-foto, media obyek penganti: replika, miniatur, atau model, dan media lingkungan;sungai, laut, danau, udara, dan air. Tentu saja media yang diberikan haruslah media yang berkaitan dengan materi yang diberikan. Dalam penggunaan media sederhana ini diperlukan kreatifitas dari guru itu sendiri, agar media yang diberikan dapat menarik pehatian murid sehingga dapat menumbuhkan motofasi untuk belajar.

Dari media sederhana kita beralih ke media modern. Perkembangan   teknologi dan informasi saat ini yang sangat pesat menuntut guru untuk dapat menguasainya, karena guru abad 21 dituntut untuk dapat menguasai teknologi dan informasi yang sedang berkembang. Perkembangan teknologi dan informasi saat ini memudahkan banyak kalangan dalam berbagai hal tentunya, tidak terkecuali guru sebagai pendidik. Guru dapat menggunkan teknologi yang ada sebagai media yang dapat disajikan kepada siswa dalam proses pembelajarn, seperti penggunaan beberapa program yang ada dalam Microsoft Oficce, mulai dari Ms. Word, Ms. Power Point, Ms. Corel Draw daan banyak lagi lainnya. Misalnya saja, guru memberikan materi yang berkenaan dengan fenomena gunung meletus, dan disajikan dalam bentuk media modern dengan menggunakan Ms. Power point, yang disertai dengan gambar dan tulisan yang telah di modifikasi sedemikian rupa sehingga menarik perhatian siswa dan dapat menimbulkan motifasi dalam belajar. Perkembangan teknologi informasi ini juga memudahkan guru untuk mendapatkan berbagai bahan pembelajarn baik dari internet, media massa dan hiburan tentunya.

Pemberian media pun harus hati-hati, media yang diberikan haruslah yang berkaitan dengan materi yang diberikan jadi tifdak menimbulkan kebinggungan pada siswa dan diberikan dengan melihat kondisi dan situasi dimana proses belajar mengajar itu dilangsungkan. Karena tidak semua sekolah dapat meyediakan media yang kita butuhkan dalam proses belajar mengajar.

 Banyak yang mengatakan bahwa, guru yang baik ialah guru yang bias menguasai dan menggunakan TIK dengan baik. Akan tetapi menurut saya guru yang baik ialah guru yang jika ditempatkan dimanapun, pada kondisi dan situasi apapun dapat menggunakan dan  media kepada siswanya.  Jadi pemberian media tidak terbatas pada perkembangan teknologi saja, melainkan diperlukannya guru yang dapat menguasai situasi dan kondisi dalam proses belajar mengajar.        

 

 

Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

Profesionalitas guru akan tercermin dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Seorang guru yang profesional salah satunya harus mempunyai kemampuan mengkombinasikan berbagai metode dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan sumber belajar yang ada di sekolah, sehingga tujuan pembelajaran yang akan dicapai bisa terwujud. Selain itu, seorang guru yang profesional juga harus menguasai materi pembelajaran, kreatif dan inovatif sehingga dari waktu ke waktu kualitas pembelajaran akan semakin meningkat.

Perkembangan teknologi informasi sekarang ini, terutama dengan semakin memasyarakatnya komputer di sekolah-sekolah, bahkan di sekolah tertentu sudah menggunakan infokus menggantikan posisi Over Head Projector (OHP), hal tersebut akan semakin membuka peluang bagi guru-guru untuk membuat media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), baik berupa Media Presentasi Pembelajaran (MPP) atau Sofware Pembelajaran Mandiri (SPM) yang proses belajar mengajarnya dilaksanakan di laporatorium.

Dalam pembuatan media pembelajaran berbasis TIK tidak mutlak seorang guru harus menguasai IT sepenuhnya, misal menguasai Program Office Word, Office Excel, Power Point, Macromedia Flash, Visual Basic atau yang lainnya, akan tetapi yang terpenting adalah membentuk tim yang akan menghasilkan berbagai media pembelajaran.

Seseorang yang menguasai IT akan tetapi tidak mempunyai ide yang akan ditunangkan maka akan mandeg, begitupun seseorang yang punya ide tidak akan terwujudkan apabila tidak dibantu oleh yang bisa menguasai berbagai aplikasi pemrograman.

Definisi Media Pembelajaran dan Klasifikasinya

A.    Definisi Media 
Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2002: 6). Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan disebut media, yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2002: 6).
Sedangkan menurut Brigs (dalam Sadiman, 2002: 6) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Jadi, media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim dan penerima  sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2002: 6).

B.     Media pembelajaran
Media pembelajaran terdiri dari dua kata, yaitu kata “media” dan “pembelajaran”. Kata media secara harfiah berarti perantara atau pengantar; sedangkan kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi untuk membneru seseorang melakukan suatu kegiatan belajar”
Media berasal dari bahasa latin merupakna bentuk jamak dari ”Medium” yang secara harfiah berarti ”Perantara” atau ”Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa hali memberikan definisi tentang media pembelajaran.
Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah ”Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran”.
Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah ”sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.”
National Education Association (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah “sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.”
Latuheru (dalam Hamdani, 2005): menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar dan digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad ke-20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakan alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.

 Media memiliki fungsi, di antaranya :

1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke objek langsung yang dipelajari, maka objeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Objek dimaksud bisa dalam bentuk gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu objek yang disebabkan karena: (a) objek terlalu besar, (b) objek terlalu kecil, (c) objek yang bergerak terlalu lambat, (d) objek yang bergerak terlalu cepat, (e) objek yang terlalu kompleks, (f) objek yang bunyinya terlalu halus, (g) objek yang mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua objek itu dapat disajikan kepada peserta didik.

3. Media pembelajaran yang memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.

5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, kongkrit, dan realistis.

6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.

7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang kongkrit sampai dengan abstrak.Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya (Hubbard, 1993). Kriteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersediaan fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional.
Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif (Thorn, 1995). Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudaiah navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajaran bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasi aspek dan keterampilan bahasa yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu.

C.    Jenis – Jenis Media Pembelajaran
Masuknya berbagai pengaruh dalam dunia ilmu pendidikan seperti ilmu cetak mencetak, komunikasi, dan teknologi elektronik yang membuat media bermacam-macam dengan berbagai jenis dan format. Beberapa pengelompokan media berdasarkan karakteristiknya menurut beberapa para ahli yaitu:

Rudy Bretz(1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):

  1. Media audio
  2. Media cetak
  3. Media visual diam
  4. Media visual gerak
  5. Media audio semi gerak
  6. Media visual semi gerak
  7. Media audio visual diam
  8. Media audio visual gerak

Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
audio : Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
cetak : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
audio-cetak : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
proyeksi visual diam : Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
visual gerak : film bisu
audio visual gerak : film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
obyek fisik : Benda nyata, model, spesimen
manusia dan lingkungan: guru, pustakawan, laboran
komputer : CAI

Schramm (1985) menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu: media kompleks (film, TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan / kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan / buku teks, telepon, CAI).
Henrich, dkk menggolongkan:
media yang tidak diproyeksikan
media yang diproyeksikan
media audio
media video
media berbasis komputer
multi media kit.
Media di klasifikasikan menjadi 3 yaitu media visual, media audio, dan media audio-visual.
 
A. Media visual
          1.  Media yang tidak diproyeksikan, yaitu

Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
1)      gambar / foto: paling umum digunakan
2)      sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
3)      diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4)      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5)      grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

          2.      Media proyeksi, yaitu
1.      Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
Membuat sendiri secara manual
2.      Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

Di bawah ini merupakan contoh penggunaan media visual pada pembelajaran di kelas :

B. Media audio
          1.      Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
          2.      Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.

C. Media audio-visual
          1.      Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
          2.  Media komputer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.